NIM Mailing List
INFORMATION
Pesan Penggagas
Arsip Berita
Tempat Diskusi
PHOTOS & VIDEO
Photos Gallery
Dephan
Videos Gallery
Wallpaper
CAMPAIGN
Buku Kebangsaan
Pesta Rakyat
Diskusi
Penghargaan
Petisi Online
P.P.S.T.K
SIMPOSIUM
2009
2008
2007
2006
2005
AWARENESS
Bibit Disintegrasi
Budaya dlm Gambar
LINKS
Aumkar.org
ForADokSi-BIP
One Earth Media
One Earth Radio
 
 

Gus Nuril di Open House Anand Ashram – 17 April 2010

KH Nuril Arifin atau biasa disebut Gus Nuril datang bersilaturahmi ke Padepokan Anand Ashram, Sunter – Jakarta pada acara Open House 17 April 2010. Pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) Sokotunggal KH Abdulrahman Wahid ini datang didampingi beberapa santrinya untuk memenuhi undangan National Integration Movement (NIM) sebagai pembicara tunggal Diskusi Publik di padepokan yang didirikan oleh Spiritualis Anand Krishna.

Panglima Pasukan Berani Mati Banser di era Presiden Gus Dur ini berbagi pengalaman, kesan dan tidak lupa wejangan bagi Komunitas Anand Ashram yang sekarang ini sedang mengalami “ujian” dan cobaan. Beliau berbuka rahasia bahwa sebenarnya sudah lama beliau ingin bertemu dan berbincang dengan Mas Anand Krishna, tapi baru bisa terlaksana 12 Maret 2010 lalu di Gramedia Expo Conventional Hall Surabaya. Menurut beliau, inilah pertemuan fisik yang sebelumnya sudah didahului oleh pertemuan batin. Karena itu, beliau langsung bisa akrab dan klop dengan Mas Anand Krishna.

Gus Nuril membuka wejangan dengan melantunkan sebuah lagu khusus diciptakannya untuk mengekspresikan rasa kanget dan rindunya kepada Mas Anand Krishna, sahabatnya yang sekarang ini sedang terbaring sakit dan menghadapi cobaan hidup.

Ketika memperhatikan meditasi yang dilakukan oleh Komunitas Anand Ashram, beliau mengungkapkan bahwa cara meditasi dan metodologi-nya sama dengan yang diajarkannya kepada para santri di pesantren asuhannya. “Jadi di mana salahnya?” tanya beliau.

“Salahnya adalah karena kita berada di jalan yang benar. Jadinya keblinger,” beliau menjawab sendiri pertanyaannya. Beliau berbagi bahwa melakoni kebenaran tidak serta merta akan langsung mendapat pujian. Justru sejarah bercerita bahwa kebenaran biasanya baru diakui setelah pelakonnya meninggal dunia. Contohnya adalah Nabi Isa yang ketika masih hidup melakoni kebenaran, justru dihukum mati secara hina. Kala itu, hukuman mati di kayu salib adalah cara paling hina untuk mati bagi masyarakat Yahudi maupun Romawi.

Beliau juga bercerita bahwa dulu Pasukan Berani Mati dibentuk untuk mendidik generasi muda agar mempunyai kesadaran untuk melindungi lambang-lambang dan simbol-simbol negara, termasuk pemimpin negara. Jadi pemimpin juga harus arif dan bijaksana karena kata Tuhan, Pemimpin adalah talangan, bukan algojo. Tapi yang dipimpin pun harus punya loyalitas pada pimpinannya, karena itulah jalan menuju keselamatan.

Agama, bagi beliau, semestinya menentramkan, tapi bila mau selalu hidup tenteram tanpa gejolak, ya mendingan jangan hidup. Makna kebijaksanaan yang sangat mendalam ini beliau bagikan, merujuk pada pengalaman-pengalaman para Nabi dan Utusan Tuhan yang selalu saja mendapat cobaan, dan rintangan dalam memberitakan kebenaran.

“Berbahagialah seseorang yang mencintai gurunya, “ kata Gus Nuril di akhir sesi acara. Karena sang murid pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya bagaikan Bima yang mendapatkan Dewa Ruci. Demikian beliau mengakhiri wejangannya sore ini di Anand Ashram – Sunter.