| |
26 Oktober 2009 - Dharma Taruna
Di hari yang bersejarah bagi para pemuda, hari ini, 28 Oktober 2009 akan sangat bermanfaat untuk direnungkan dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang diungkapkan oleh Bapak Anand Krishna dalam acara Temu Hari di Semarang tanggal 26 Oktober 2009 kemarin. Beliau mengingatkan permasalahan mendasar yang pemuda hadapi dan sekaligus memberikan solusi secara do the point. Hal ini yang menyebabkan pertemuan malam itu menjadi sangat spesial dan tidak akan terlupakan oleh sanubari yang hadir. Malam itu Bapak Anand Krishna membahas tentang pemberdayaan spiritual pemuda, spiritual empowerment of the youth.
Bapak mengawali ketercengangan yang hadir dengan mengutip Vivekananda “our blood life adalah spirituality”, darah hidup kita adalah spirituality. Kehidupan lain, seperti politik dll akan berjalan dengan baik jika darah spiritulitas ini bersih. Kalau kita hanya memperbaiki organ saja, tidak cukup, dikemudian hari organ lain juga perlu diperbaiki. Oleh karena itu darah, blood of our life yang perlu diperbaiki.
Pada dasarnya esensi kehidupan ada pada masa muda, demikian ungkapan Bapak yang mengejutkan sebagain besar orang yang hadir. Karena masa kanak-kanan dan tua sangat tergantung pada orang lain. Oleh karenanya masa muda jangan disia-siakan dengan lack of discrimination, ketidak mampuan untuk memilah mana yang tepat dan mana yang tidak tepat, kekuasaan maupun uang. Karena segala sesuatunya di dunia ini bersifat relatif pemuda penting memiliki kemampuan membedakan mana yang tepat dan tidak (descrimination). Untuk membantu mengembangkannya beliau menyarankan untuk melakukan evaluasi diri setiap malam, sebelum tidur dengan menggunakan bantuan gambar...bagi menjadi empat bagian: pagi (9-12), siang (13-16), sore (17-20) dan malam (21- sebelum tidur), ingat kembali apakah dalam setiap segmen waktu tersebut tidakan anda sudah tepat. Lakukan selama satu bulan dan lihat hasilnya, ungkap Beliau.
Puncak dari wacana Bapak adalah pada saat Beliau menyampaikan tentang, Kewajiban Pemuda, Dharma Taruna yaitu:
1. Remember the past glory through study of history and culture
2. Faith in more glorious future through development of mental/ emotional faculty
3. Knowing one’s potential and developing the skills to express them to the fullest--through sciences/arts
4. Work hard to realize your destiny! Through efficient time management, and one “pointed" ness in the studies.
5. Be bold, courageous, strong, and fearless—through physical exercises, yoga etc
Dalam penjelasannya Bapak mengungkapakan, semua di dunia ini terjadi karena kekuatan pikiran. Mengulangi uangkapan Bung Karno Beliau mengatakan jangan menjadi bangsa tempe. Jangan pernah mengatakan bahwa “saya hanya manusia biasa” tapi harus berani mengungkapkan ”saya manusia ciptaan Tuhan”.
Bapak mengajak anak muda untuk mengetahui potensinya. Apapun potensi itu apakah memasak, merangkai bunga, menggambar tato dll, dalami dan kembangkan potensi, keahlian tersebut. Banyak pemuda sekarang ini tidak mengenal potensinya. Ini merupakan kegagalan dari pendidikan—karena siswa,mahasiswa tidak diarahkan untuk mengenal potensinya. Bapak bercerita bahwa Beliau menemukan potensi dirinya di support group seperti AKC. Walaupun demikian sebenarnya menemukan potensi diri bisa dilakukan lewat berbagai cara seperti membaca.
Terkait dengan destiny dan one “pointed" ness, Bapak mengingatkan pemuda akan tujuannya ke sekolah adalah untuk belajar bukan untuk pacaran. Kalau mau pacaran tidak perlu ke sekolah, karena bisa dilakukan dimana-mana ungkap beliau tegas.
Pada bagian terakhir dari wacana, Bapak mengungkapkan tentang pengendalian diri yang merupakan kunci keberhasilan, mastery key to success. Berikut ini adalah tiga petujuk pengendalian diri dari Bapak untuk pemuda:
1. To control: indulge in sexual activities, thereby wasting energy. To gear: creativity, debate, essay, poetry, story, writing, painting, photography …
2. To control: involvement in politic, thereby corrupting the uncorrupt minds. To gear up: campus activities to selflessly selves
3. To control: Wrong interpretation of religious rituals us spirituality. Rituals w/o the spirit religion make one egoistic. To gear up: Translation religion into day to day life and keep the mind open to all new/good ideas, from whatever source.
Bapak memaparkan, semua cairan energi baik yang ada pada laki-laki maupun perempuan dibangun oleh tubuh selama 21 hari, oleh karena itu jangan disia-siakan. Persedikit masturbasi, sekali-kali boleh. Energi tersebut harus dipergunakan. Creativitas itu adalah salah satu cara untuk membuang energi yang berhasil guna. Harus ada konpirasi antara orang tua, anak dan sekolah untuk mengembangkan kretivitas anak, pemuda.
Harus dibedakan antara political motive (praktis) dan kebangsaan. pemuda jangan sampai dipakai oleh kekuatan politik. Perlu diupayakan pemuda ini energinya digunakan untuk kebangsaan, untuk hal-hal yg lebih kreatif.
Riual agama bukanlah spiritualitas. Ritual tanpa spiritulitas bisa menjadikan seseorang egois. Ajaran agama perlu mewawarnai kehidupan kita sehari hari.
Bapak mengakhiri pertemuan dengan cerita yang sangat indah untuk diingat selalu dalam menjalani kehidupan ini. Dalam diri manusia ada dua srigala si A yang sifatnya tamak dll dan si B yang sifatnya ”berbeda”. Si sirgala A dan B selalu berkelahi. SIAPA YANG MENANG? Yang kita berikan makanan siapa? itu yang akan memang.
|
|
|